Sangat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, terkadang kita lupa bahwa yang kita dapat itu adalah sesuatu yang sangat dipertanyakan nantinya diakhirat .
Mungkin kata-kata itu yang pas saya ucapkan, saya menyakini bahwa apapun yang didapat, bahkan cara mendapatkannya akan menjadi topik bahasan utama, pada saat sidang terakhir di akhirat nanti.
kalau kita mau berpikir dan mempertimbangkan aspek negatifnya. yakinlah pasti kita akan membuat sejarah hidup yang terbaik untuk anak cucu kita nantinya.
Mencari nafkah itu wajib dan menjadi kaya sangat dianjurkan oleh agama kita, namun apakah kita mau berpikir. tidak semua pekerjaan baik itu dibenarkan dan berkah.
Saya belum dapat memikirkan secara dalam dan jauh, apakah menimbun harta dengan mengeruk hasil bumi ditengah perkampungan itu dibenarkan ?.
saya sangat memahami betapa susahnya saudara kita mencari nafkah, itu semua karena mereka tidak berbekal dan dibekali oleh skill yang mumpuni, sehingga mereka termarginalkan oleh kondisi dan keadaan. sehingga tatkala tualan menjadi alternatif yang menjanjikan semua masyarakat berlomba-lomba menjadi bos-bos kecil ditengah perkampungan, dengan dalih memiliki lahan atau mempunyai modal satu sampai dua juta.
Menjamurnya pekerja tualan dan bos kecil tualan, harapan saya akan menjadi langkah awal memperbaiki tarap hidup mereka. Dengan bekerja manualan mereka bisa menyekolahkan anak, bikin rumah dan investasi dibidang pertanian, perkebunan bahkan peternakan. Tapi nyatanya saya keliru.......
Tidak sedikit dari hasil menualan tersebut raib dimeja perjudian dan glamornya pergaulan... sehingga dapat sore pagi cari lagi,,, Saya tidak bisa sebutkan mengapa ini terjadi. tapi saya yakin ini sudah menjadi rahasia umum dan semua orang tau....
Kesedihan saya tidak cukup sampai disini,,,,
Ternyata sekarang alat berat membelah kampung dan hampir saja jalan utama diputus.
Tambang ditengah kampung didaerah kami menjadi tren baru, menjanjikan bahkan menyenangkan.
Saya mau bertanya masalah ini kemana? siapa yang salah. Apakah orang tua kami yang lugu itu yang salah, ataukah mereka hanya menjadi tameng dan boneka oleh oknum tertentu. Yang jelas ini semua pasti ada yang salah..
Siapa yang bertanggung jawab terhadap kobangan besar ini nantinya,,,
Tambang di tengah kampung menjadi kesenangan sementra dan alat meraup kekayaan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Tualan menjadi pertambangan ilegal dan bahkan dilegalkan oleh orang-orang tertentu.
kasian KAMPUNG KU, maafkan aku tidak bisa berbuat,,,
Tapi yakinlah suatu saat kita akan tau kebenarannya..
Salam
Bang Bir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar